Monday, February 26, 2018

IQ Tinggi Identik dengan Depresi. Benarkah?

Jelang Natal, 23 Desember 1988, Vincent van Gogh memotong telinga kirinya lalu membungkusnya dengan kertas. Di hari minggu nan dingin itu, ia kemudian berjalan menyusuri Desa Arles, Prancis, mengirimkan potongan telinganya pada seorang perempuan yang kemudian diketahui bernama Gabrielle Berlatier. 
Melihat bungkusan itu, Berlatier seketika pingsan karena terkejut. Sementara Van Gogh, tak lama kemudian terjatuh lemas karena kehilangan banyak darah yang membuatnya harus dirawat hampir dua minggu lamanya. 
Mengapa pelukis ternama dan salah satu paling berpengaruh di Eropa itu memotong telinganya sendiri?

Karena denting lonceng pernikahan adiknya, Theo. Kira-kira begitulah menurut Martin Bailey dalam bukunya berjudul Studio at the South: Van Gogh in Provence.

Di hari itu, telegram datang dari kakaknya, Henry, yang mengucapkan selamat karena Theo akan menikah. Theo bukan sekadar seorang adik bagi Van Gogh, melainkan orang kepercayaan sekaligus penyokongnya secara finansial. 
“Rasa takut menjadi pemicu dan mendorongnya berbuat seperti itu. Rasa takut akan diabaikan baik secara emosi atau keuangan,” ujar Bailey, dilansir CNN. 
Beberapa teori sebelumnya berasumsi bahwa tindakan ‘gila’ Van Gogh terjadi setelah ia bertengkar hebat dengan teman pelukisnya, Paul Gauguin, atau karena sekadar mencari perhatian ibundanya.

Baca juga:
Bailey percaya bahwa berita pernikahan hanyalah pelatuk yang mengguncang Van Gogh. Terlebih mengingat pandangan para dokter ahli yang menilai Van Gogh memiliki gangguan mental--entah itu bipolar disorderatau alkoholisme. 
Hasil pemeriksaan kesehatan Van Gogh menunjukkan bahwa sang pelukis impresionis itu menjadi “mangsa halusinasi aural (terkait pendengaran)”. Memotong telinga, boleh jadi, usaha--sia-sia--untuk membungkam ratusan suara yang menghantuinya.

Van Gogh adalah satu dari sederet seniman ternama--pelukis, penyanyi, penulis, aktor--yang menderita gangguan mental atau depresi. Selain dia, ada nama-nama lain seperti Pablo Picasso, Edgar Allan Poe, Virginia Woolf, Ernest Hemingway, Amy Winehouse, Kurt Cobain, Sylvia Plath, hingga Robin William, yang juga didera depresi.
Saking banyaknya tokoh-tokoh ternama yang mengalami depresi, gangguan mental, atau psikopatologi lainnya, para peneliti pun mencari tahu adakah kaitan antara gangguan mental dan kecerdasan?

Kecerdasan dan Gangguan Mental Memiliki Gen Serupa?
Depresi dan psikopatologi lainnya, barangkali, adalah harga yang harus dibayar atas kecerdasan yang dimiliki. Asumsi itu mendorong lahirnya banyak penelitian yang seakan mencoba mengamini pernyataan tersebut.  
Daniel Smith dari University of Glasgow, Skotlandia, meneliti 1.881 anak usia 8 tahun, yang ia teliti kembali di usia 22-23 tahun. Penelitian yang dirilis pada 2015 itu menyatakan, 10 persen dari mereka dengan kontras emosi berlebih memiliki IQ lebih tinggi hampir 10 poin. Korelasi ini kian menguat bagi mereka yang memiliki kecerdasan verbal. 
“Penelitian yang kami lakukan menawarkan penjelasan bagaimana bipolar disorder terjadi di tiap generasi,” ujar Daniel Smith kepada The Guardian (19/8/2015).
“Ada gen tertentu yang sepertinya mendasari terjadinya gangguan mental. Salah satu kemungkinannya, gangguan emosi--seperti bipolar disorder--adalah harga yang harus dibayar manusia akan kecerdasan, kreativitas, dan kemampuan verbal yang dimilikinya.” 
Hasil penelitian itu senada dengan riset yang dilakukan oleh deCode--pusat studi gen di Reykjavik, Islandia--yang juga menelaah kaitan antara gangguan mental dan kecerdasan. 

“Untuk menjadi kreatif, kamu harus berpikir dengan cara berbeda,” ujar Kari Stefansson, pendiri deCode, dikutip dari The Telegraph. “Dan perbedaan itu membuat kita cenderung dianggap aneh, gila, bahkan hilang akal,” lanjutnya. 
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Neuroscience itu menggunakan rekam medis 86.000 orang Islandia untuk menemukan varian gen yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental. Mereka menemukan bahwa gen tersebut lebih umum (sebesar 17 persen) dimiliki oleh anggota dewan kesenian nasional. 
Tak hanya penelitian ini saja yang mencoba mencari korelasi antara psikopatologi dan intelegensi. Setidaknya sejak 1987 banyak penelitian dikembangkan. Mulai dari riset Nancy Andreasen yang membandingkan 30 penulis dan non-penulis, studi Kay Redfield Jamison yang mewawancarai 47 penulis dan seniman, hingga Arnold Ludwig yang meneliti ribuan biografi tokoh ternama. 
Semuanya seolah mencari pembenaran bahwa para seniman dan tokoh-tokoh terkemuka itu dihantui oleh depresi dan berbagai penyakit kejiwaan. Namun tak satu pun dari berbagai penelitian tersebut yang benar-benar memberi bukti valid adanya korelasi antara “kegilaan” dan kecerdasan. 
Keraguan muncul entah karena metode penelitian yang dilakukan atau terbatas secara prosedur--pada jumlah responden, teknik wawancara, studi literatur--hingga pengertian dan standar dari kecerdasan atau kreativitas yang sekadar didasarkan pada profesi semata. 
Albert Rothenberg, profesor psikiatri Universitas Harvard, dengan skeptis menyatakan, “Hal itu hanyalah romantisme abad 19 yang menilai bahwa seniman adalah pejuang, menyimpang dari masyarakat, dan sibuk bergumul dengan setan dalam dirinya.” 
Keraguan serupa juga disampaikan Arne Dietrich, profesor psikiatri Universitas Georgia. Bagi Dietrich, “Berbagai statistik itu adalah ‘dosa’ karena mengabaikan informasi dasar dan umum untuk berfokus pada informasi yang spesifik, yang ada di depan mata.” 
Psikopatologi--apapun bentuknya--dialami oleh hampir 10 persen dari populasi dunia. Namun, besarnya jumlah tersebut sama sekali tak berkorelasi positif dengan jumlah orang-orang genius dan kreatif.

“Nyatanya, mayoritas orang kreatif tak menderita gangguan psikologi. Dan mereka yang mengalami gangguan psikologi pun tak bisa disebut cerdas atau kreatif,” tulis Dietrich. 
Psikopatologi sebatas dipahami sebagai gangguan mental yang dilihat per individu semata: kurangnya serotonin atau masalah pada otak mereka. Bukan sebagai persoalan sosial dan interaksi di masyarakat yang melahirkan keterasingan, rasa rendah diri, dan beragam ketakutan lainnya.  
Selain itu Dietrich juga mengkritisi term kreatif dan cerdas yang hanya didasarkan pada profesi semata: seniman, penulis, musisi, aktor, atau ilmuwan. Lalu, bagaimana dengan akuntan, marketing, petani, dan sebagainya? Tak mungkinkah mereka juga kreatif dan cerdas dengan caranya sendiri? 
Asumsi ini bisa menjadi tekanan baru bagi mereka yang mengalami psikopatologi, namun tak memiliki bakat apapun di bidang “kreatif”. 

Kritik lainnya mempertanyakan definisi dari gangguan mental yang dialami. Barangkali, gangguan mental yang dibayangkan adalah apa yang ditampilkan seperti dalam film, teater, lagu, atau puisi: asap rokok yang memenuhi kamar berlampu temaram, geretak jemari di atas meja, dengan pikiran yang berlari ke mana-mana.
Sementara itu, mereka yang depresi, misal, nyatanya hanya tidur hingga 20 jam dalam sehari, tanpa mandi, mengurung diri, enggan untuk keluar karena berpikiran “aku tak berharga dan tidak seharusnya ada di tengah masyarakat”. Gejala yang justru membuat seseorang tak bisa melakukan apapun yang dia mau, mematikan motivasinya untuk berlaku karya. 

Baca juga:
Di sisi lain, asumsi tersebut bisa dibilang cukup berisiko. Kreativitas yang dimiliki seseorang dianggap karena “kegilaan” alih-alih bakat yang dimiliki. Atau, mereka yang bergerak di bidang seni kemudian dianggap “gila” dan membuatnya terputus dari masyarakat yang justru menikmati karyanya. Atau, memotivasi para seniman dan penulis untuk memilih hidup menderita demi melahirkan kreativitas. 
Boleh jadi, gagasan itu tetap ada karena dirasa memberi kenyamanan: bahwa gangguan kejiwaan yang dialami mungkin memiliki dampak positif. Namun, menutup mata dari realita yang sebenarnya.
=============== 

 Source: Here

No comments:

BTemplates.com

Featured Post

PLN Bekasi Kota : Penyambungan Serentak

Search This Blog

About